Ad

Memo Timur Lumajang
Wednesday, 13 January 2016

DPPKA Pemkot Probolinggo dan Management BJBR Kong-Kalikong?

Probolinggo, Memo Timur_Terkait ditemukannya indikasi manipulasi dan dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh management Obyek Ekowisata BeeJay Bakau Resort (BJBR), yang berlokasi di Pelabuhan Pelelangan Ikan Kota Probolinggo, dengan modus operandi menjual karcis tanda masuknya (TM) tanpa ada legalitas berupa perforasi dari Bidang Pendapatan di DPPKA (Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset) Pemkot Probolinggo, Serta fakta di lapangan ditemukan nomor seri tanda masuk (TM) ganda yang juga tidak terperforasi, dan nomor seri TM yng diperforasi ke DPPKA Pemkot Probolinggo dengan nomor seri tidak urut dan loncat-loncat.
Triani Prawanti, Kabid. Pendapatan DPPKA dan Joko, Kepala HRD BJBR

Triani Prawanti, Kabid. Pendapatan DPPKA dan Joko, Kepala HRD BJBR


Pihak managemen BJBR, melalui Joko, Kepala HRD BJBR, ketika dikonfirmasi di kantornya, (Selasa, 12/1), melakukan perbuatan ilegal yang dapat dikategorikan sebagai upaya ‘membungkam’ kemerdekaan jurnalistik yang dijamin Undang-undang PERS, Nomor 40/tahun 1999, dengan cara memberikan amplop berisi uang sambil menerangkan bahwa permasalahan itu sudah terselesaikan dengan pihak Pendapatan di DPPKA (Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset) dan tidak lagi perlu diberitakan.

“Pihak Dispenda (DPPKA, Red) sudah tahu hal ini, nanti akan hadir ke sini dan akan kami bayar kewajiban pajak kami, jadi permasalahan ini sudah selesai. Sehingga jangan diberitakan karena saya rasa tidak perlu lagi” kata Joko sambil menyodorkan amplop berisi uang. Kontan saja pemberian tersebut ditolak, mengetahui hal ini, buru-buru Joko meralat keterangannya, “Ini bukan suap, ini hanya uang pengertian kami kepada anda, karena anda sudah jauh-jauh meliput ke sini” rajuk Joko.


Di sisi lain, Triani Prawanti, Kabid Pendapatan DPPKA Kota Probolinggo, ketika dikonfrimasi di kantornya, (Selasa, 12/1), selain mengaku terkejut melihat Tanda Masuk BJBR tanpa ada perforasi, dugaan kuat adanya nomor seri ganda yang merupakan indikasi manipulasi dan penggelapan pajak mengatakan, “Saya tidak pernah mendapat informasi maupun koordinasi terkait penjualan karcis yang belum terperforasi itu dari pihak BJBR.” Triani juga menegaskan bahwa pihak BJBR terakhir memperforasi tiket masuk BJBR pada tanggal 5 Juni 2015 dengan nomer seri mulai 4000 sebanyak 20 bendel dengan rincian 100 tiket per bendelnya. “BJBR saat ini juga sedang meminta perforasi tanda masuk dengan nomor seri mulai 007001” lanjut Triani.

“Selama ini BJBR terhitung sebagai wajib pajak yang baik, pola penentuan pajaknya dengan system self assessment, dimana pihak wajib pajak berhak menghitung pendapatan, menentukan besarnya pajak yang harus dibayar serta melakukan pembayaran pajak sendiri tanpa dipungut” terang Triani. “Saya baru tahu kalo ada tiket tanpa perforasi dan kemungkinan bernomor seri ganda ini, saya akan segera ke BJBR untuk klarifikasi” imbuhnya.

Keterangan Triani ini menunjukkan kebohongan Joko, Kepala HRD BJBR yang mengatakan sudah berkordinasi dengan pihak DPPKA untuk menjual tiket tanpa perforasi tersebut. Lebih jauh, Triani juga kaget melihat fisik tiket yang ditunjukkan awak media ini, karena dianggapnya tidak sama. “Lho karcisnya tidak sama, BJBR cetak sendiri berarti ini ya” ungkapnya sambil mendokumentasikan TM milik Memo Timur yang dianggapnya cetakan BJBR sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Triani juga meminta kepada wartawan media ini agar tidak menulis dahulu dan berkoordinasi dengan pihak BJBR, “Jangan ditulis dulu ya mas, (wartawan Memo Timur, Red), koordinasikan dan kondisikan dulu saja dengan pihak BJBR” pinta Triani mengherankan, karena sebagai abdi negara yang menjabat Kasi. Pendapatan di DPPKA Pemkot. Probolinggo, seharusnya Triani bersyukur atas pengungkapan fakta itu melalui media massa, tidak justru berlagak layaknya pejabat humas BJBR dengan meminta agar tidak diberitakan. (A’Az)

Ekowisata BJBR, Belum Aman Bagi Pengunjung, Khususnya Anak-anak

Probolinggo, Memo Timur_Obyek Ekowisata BeeJay Bakau Resort (BJBR), yang berlokasi di Pelabuhan Pelelangan Ikan Kota Probolinggo, diimpikan untuk bisa menjadi icon pariwisata di Kota Probolinggo, sekaligus diharapkan mampu menjadi pilihan pendamping bagi Taman Wisata Nasional Bromo yang sudah meng-internasional.
Jalan jembatan di area hutan bakau tidak berpagar & Jaringan kabel berkekuatan tinggi

Jalan jembatan di area hutan bakau tidak berpagar & Jaringan kabel berkekuatan tinggi


BJBR merupakan unit usaha dari bisnis entertainment terbesar di Probolinggo Raya (Kota dan Kabupaten) ini, pembangunanannya ternyata hanya setengah jalan dan terkesan dipaksakan untuk dibuka bagi pengunjung. Kenyataan ini dapat dilihat dari infrastruktur yang ada, meski sudah beroperasional sejak 2013, namun beberapa fasilitas penting untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung masih jauh dari normal, terutama pengunjung anak-anak.

Salah satunya adalah jaringan kabel listrik berkekuatan tinggi yang terhubung antar unit/ fasilitas di BJBR, seperti dari gardu induk ke Bungalow, ke Restoran Sea Food dan atau ke Cafe Tenda dan lainnya, masih nampak terpasang darurat dan sangat membahayakan, jauh dari standart aman, di beberapa titik masih memanfaatkan pohon-pohon bakau yang dilintasinya sebagai tiang penyangga.


Padahal, pohon bakau itu hidup yang berarti basah dan tumbuh di perairan, Kondisi basah dan perairan itu merupakan penghantar listrik yang baik dan jika terjadi keausan pada fisik kabel akan membahayakan pengunjung dari sengatan aliran listrik. Hal itu membuat M. Nur Istanto, salah satu rekanan bidang fisik Pemkot. Probolinggo, kembali angkat bicara.

“Sebatas yang saya lihat, jaringan kabel listrik di BJBR itu memang sangat rawan dan berbahaya bagi pengunjung, jika ada kabel yang aus, apalagi terputus, yang memungkinkan terjadinya kebocoran aliran listrik. Sudah pasti akan memakan korban, mengingat daerah itu dipenuhi tumbuhan bakau dan genangan air yang bisa menjadi penghantar listrik sempurna” Ujarnya setelah melihat langsung jaringan listrik di BJBR.

“Harus didalami lebih jauh, apakah jaringan kabel listrik itu dikerjakan oleh pihak PLN (perusahaan listrik negara) atau rekanan PLN yang sah dan profesional, atau mungkin oleh pihak pengembang dan management BJBR sendiri. Karena mereka harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu atas pengunjung karena kelalaian mereka” imbuhnya.

Selain itu, jalan penghubung antar fasilitas BJBR dalam bentuk jembatan, yang melintasi hutan bakau, terbangun di atas genangan air laut yang pasang, berketinggian sekitar 2 hingga 4 meter. Terlalu sempit dan tidak berpagar pembatas di sisi kiri dan kanannya, sehingga pengunjung, terutama anak-anak yang masih gemar berlari-larian, sangat rawan terjatuh dan terjerembab ke perairan hutan bakau yang tentunya juga sangat berbahaya. Belum termasuk bahaya dari kerawanan kekuatan jembatan itu sendiri dan binatang liar seperti ular.

Pada pekan padat pengunjung, event Natal 2015 dan tahun 2016 kemarin saja, ketika ribuan pengunjung memadati BJBR, tidak nampak adanya petugas keamanan di lintasan jalan-jembatan itu, atau di sekitar kolam pemandian, termasuk keberadaan tim Rescue yang bertugas menolong pengunjung yang mengalami kecelakaan, baik terjatuh di daratan maupun tenggelam di perairan.

Atas kenyataan rawannya keselamatan pengunjung BJBR ini, selain menyampaikan rasa prihatin yang tinggi, Sugeng, salah satu pengusaha hiburan dan tempat wisata senior di Jawa Timur, juga menyarankan agar pihak BJBR segera membenahi fasilitas yang masih membahayakan pengunjung, dan selama pembenahan berlangsung, BJBR secara kesadaran sendiri tutup sementara. Agar ke depan tercipta kenyamanan dan keamanan bagi pengunjungnya. (A’Az)

Tuesday, 12 January 2016

Ekowisata BJBR Kuat Terindikasi Manipulasi dan Gelapkan Pajak

Probolinggo, Memo Timur_Temuan Memo Timur terkait Tanda Masuk (TM) Obyek Ekowisata BeeJay Bakau Resort (BJBR), yang berlokasi di Pelabuhan Pelelangan Ikan Kota Probolinggo, menjual karcis tanda masuknya tanpa ada legalitas berupa perforasi dari Bidang Pendapatan di DPPKA (Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset) Pemkot Probolinggo, sebagai tanda legalnya TM itu untuk dijual, karena pajaknya sudah terkendali atau bahkan sudah terbayar.
M. Nur Istanto, Pelaku Ekonomi Kota Probolinggo
M. Nur Istanto, Pelaku Ekonomi Kota Probolinggo


Serta ditemukannya fakta, bahwa BJBR juga terindikasi menjual TM dengan nomor seri ganda. Menguatkan dugaan, bahwa BJBR melakukan upaya mengelabuhi petugas pajak alias memanipulasi dan menggelapkan pajak negara. Mengingat, bahwa hal-hal di atas merupakan trik umum pelaku usaha hiburan, tempat wisata atau kegiatan yang mewajibkan pengunjungnya membeli TM, untuk memanipulasi pajak.

M. Nur Istanto, salah satu pengusaha Kota Probolinggo. Terkait hal itu mengatakan, “Pelaku usaha yang memanipulasi pajak, bisa digolongkan sebagai pengusaha nakal dan jelas-jelas tidak memiliki kepedulian terhadap pembangunan yang ada di Kota Probolinggo, karena perbuatan itu tidak hanya merugikan negara dari sisi pendapatan negara dari pajak, juga tidak mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan barometer DAU/DAK (Dana Alokasi Umum/Dana Alokasi Khusus) dari Pemerintah Pusat untuk Pemerintah Kota Probolinggo.” Terangnya secara gamblang.

“Kalau temuan itu benar, Seharusnya pihak Dispenda dan Satpol PP Pemkot Probolinggo harus peka dan segera mengambil tindakan. Jika sudah berlangsung hampir dua tahun tetapi mereka mengaku baru tahu, jelas ada sesuatu dalam tanda kutip di antara mereka. Jika perlu permasalahan ini diseret saja ke ranah hukum, agar menjadi contoh bagi pengusaha nakal lainnya dan tidak ditiru” lanjut Istanto dengan nada geram.
Triani Prawanti, Kabid. Pendapatan DPPKA Pemkot. Probolinggo
Triani Prawanti, Kabid. Pendapatan DPPKA Pemkot. Probolinggo


Sementara itu, Triani Prawanti, Kabid Pendapatan DPPKA Kota Probolinggo, mengaku terkejut melihat bukti yang ditunjukkan awak Memo Timur. “Saya tidak pernah mendapat informasi maupun koordinasi terkait penjualan karcis yang belum terperforasi itu dari pihak BJBR.” Triani juga menegaskan bahwa pihak BJBR terakhir memperforasi tiket masuknya adalah pada tanggal 5 Juni 2015 dengan nomer seri mulai 4000 sebanyak 20 bendel dengan rincian 100 tiket per bendelnya. “BJBR saat ini juga sedang meminta perforasi tanda masuk dengan nomor seri mulai 007001” lanjut Triani.

Keterangan Triani ini patut dipertanyakan dan membuktikan kurang pekanya Triani sebagai Kabid Pendapatan atau memang sengaja membiarkan, Pasalnya, jika diakui bahwa sebelumnya pihak BJBR pernah memperforasi 2000 lembar dalam 20 bendel diawali dengan nomor seri 4001 yang berarti sampai dengan no seri 6000 dan sekarang memperforasi TM dengan diawali nomor seri 7001. Seharusnya Triani mempertanyakan TM dengan nomor seri 6001 hingga 7000. (A’Az)

Tempat Wisata BJBR Jual Tiket “Bodong”

Probolinggo, Memo Timur_Obyek Wisata BeeJay Bakau Resort (BBJR), yang berlokasi di Pelabuhan Pelelangan Ikan Kota Probolinggo, menjual karcis tanda masuknya (TM) tanpa ada legalitas berupa perforasi atau lubang-lubang legalisir dari Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Pemkot Probolinggo, sebagai tanda legalnya TM itu untuk dijual, karena pajaknya sudah terkendali atau bahkan sudah terbayar. Lebih parah, BJBR juga terang-terangan menaikkan harga tanda masuk (HTM) dua kali lipat lebih mahal dari HTM sehari-hari yang hanya 10.000,- rupiah menjadi 20,000,- rupiah pada pekan-pekan padat pengunjung seperti pekan Natal 2015 dan Tahun 2016 dan liburan sekolah kemarin.
Joko, Kepala HRD BJBR
Joko, Kepala HRD BJBR


Tidak hanya sampai di situ, BBJR juga nekad menjual TM dengan seri ganda. Seperti temuan Memo Timur saat berkunjung ke sana, Selasa, tanggal 29 Desember 2015. Memo Timur mendapatkan TM dengan nomor seri 6686 sampai 6693, tanpa luang pervorasi. Ketika hendak meninggalkan lokasi wisata, Satpam yang bertugas di area parkir meminta TM tersebut namun ditolak lantaran merasa tidak berkewajiban menyerahkannya.

Berbeda dengan saat kunjungan kedua, Jumat, 1 Januari 2016. Rombongan Memo Timur mendapatkan TM masuk dengan nomor seri TM yang jauh lebih muda dari TM 3 hari sebelumnya, dengan seri nomor 3319 sampai 3324 juga tanpa lubang pervorasi. Hal ini memunculkan dugaan bahwa TM yang dijual sengaja diberi nomor seri ganda, dengan tujuan untuk mengelabuhi petugas pajak, serta merupakan upaya nyata meraih keuntungan lebih dengan cara menggelapkan pajak negara yang seharusnya dibayar.

Joko, Kepala HRD BJBR saat dikonfirmasi perihal tersebut di kantornya (Senin, 11/1), mengakui kejadian tersebut. “Saat itu kami kehabisan tiket, sehingga terpaksa menjual sisa tiket yang belum kami pervorasikan, itupun hanya tiga bendel dengan jumlah seratus lembar perbendel” jelasnya. Ditanya bahwa fakta di lapangan tidak ditemukan TM yang telah dipervorasi, sekaligus TM yang selisih sekitar 3.000 lembar dari No seri 3319 - 3324 dan 6686 – 6693 juga sama-sama tidak terpervorasi, Joko tidak mampu menjelaskan. “Silahkan tanyakan langsung ke kantor pusat kami di BJS (BeeJay Sea Food, Red), termasuk nilai dan pola pembayaran pajak kami” kilah Joko. Sementara itu, konfirmasi ke kantor BJS gagal dilakukan, karena semua petugas yang berwenang menerima konfirmasi tidak berada di tempat.


Bendel Tiket No Seri: 3319 - 3324 & 6686 - 6693. Tanpa Perforasi


Hasbullah, Kasi. Restribusi Dispenda Pemkot. Probolinggo saat dikonfirmasi di kantornya kemarin, menyatakan bahwa pihaknya hanya menerima laporan dari UPT Kecamatan Mayangan dan tidak tahu perihal tersebut. Sebuah keterangan yang menggambarkan betapa parahnya management Pemerintah Kota Probolinggo terkait pemanfaatan dan pengawasan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta gambaran rendahnya SDM pelaksananya, terbukti, seorang Kasi Retribusi tidak tahu akan adanya potensi peningkatan PAD yang cukup besar, padahal BJBR sudah beroperasi sejak tahun 2013. (fina/cat)

Friday, 29 May 2015

Sapi Dicuri, Punggung dan Ekor Putus

Lumajang, Memo_Apes yang dialami Sukar (34), asal Dusun Ateran, Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh. Ketika ia bersama anak dan istrinya tertidur lelap, satu ekor sapi yang ada di dalam kandangnya digondol maling. Beruntung, sapi itu kembali ditemukan namun sudah dalam kondisi luka pada punggung dan ekornya putus.
pencurian hewan
Ilustrasi kejadian

Aksi pencurian itu terjadi pada Rabu (27/5), dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. di kandang sapi yang ada di belakang rumahnya. Informasinya, korban baru mengetahui sapinya hilang ketika hendak memberikan makan pada sapi tersebut. Namun ia terkejut, ketika masuk kandang sapinya sudah raib.

“Waktu itu kondisi pintu kandang sudah terbuka dan rusak,” terangnya. Mengetahui sapinya hilang, korbanpun akhirnya teriak-teriak minta tolong kepada warga sekitar rumahnya. Tak pelak, hanya dalam hitungan menit warga mulai berjubel di depan rumah korban untuk ikut membantu mencari sapi yang dicuri itu.

Sayangnya, pencarian yang dilakukan oleh korban bersama warga tersebut sia-sia. Pasalnya, warga bersama korban tidak bisa melihat jejak kaki sapi tesebut. Selain itu, minimnya peralatan serta kondisi yang masih gelap, membuat pencarian itu tidak maksimal. “Karena masih subuh, jadi jalanan gelap Pak,” terangnya lagi.

Tetapi sekitar pukul 06.30 WIB. ada  salah satu warga, tetangga desa yang melaporkan ada sapi di tengah lahan pepaya yang letaknya berada di barat lapangan Desa Jatisari, Kecamatan Tempeh. “Sapinya melompat-lompat dan ngamuk-ngamuk,” jelas salah satu warga itu.

Mendapat laporan itulah, korban bersama warga akhirnya mendatangi tempat dimana sapi itu berada. Setiba di lokasi penemuan, korban bersama warga itu kaget. Pasalnya, kondisi tubuh sapi sudah bermandikan darah. Ketika diteliti, ternyata punuk (punggung) sapi sudah terpotong berikut ekornya.

Ketika didekati, sapi itu terus mengamuk dan melompat-lompat. Diduga, sapi itu kesakitan setelah punggung dan ekornya sengaja dibacok oleh pelaku pencurian itu. “Mungkin pada saat dituntun, sapi itu tidak mau jalan, akhirnya pelaku jengkel kemudian membacok punggung dan ekornya,” Karnapi (60), tetangga korban.
Melihat kondisi sapi yang semakin mengkawtirkan, akhirnya korban menawarkan sapi itu kepada pihak penjagal sapi agar segera dilakukan penyembelihan. “Kemarin sapi itu langsung diangkut menggunakan mobil pikap untuk dibawa ke tempat penyembelihan,” jelas Karnapi lagi.

Pemuda Ganteng Tinggalkan Rumah 7 Bulan Tanpa Kabar

Sementara itu, petugas Polsek Tempeh membenarkan tentang aksi pencurian sapi itu. Petugas juga membenarkan, jika sapi itu ditemukan dalam keadaan luka pada punggung dan ekornya putus karena dibacok pelaku.  Namun demikian kata petugas, pihak korban tidak mau melapor. “Kabarnya sapi itu sudah dibawa ke temnpat jagal untuk disembelih,” tegasnya. (tri)

Saturday, 23 May 2015

Ada Free Sex di Lumajang?

Lumajang, Memo_Belakangan ini, di wilayah Kabupaten Lumajang banyak didapati kehamilan di usia muda. Karena terpaksa, hingga mengajukan dispensasi kawin. Parahnya lagi sejak sepekan terakhir ini mencuat kabar  ada istilah Free Sex di wilayah Kecamatan Tempursari.
kabar ada free sex di lumajang

Menyikapi hal itu, Bupati Lumajag Drs. H. AS’AT Malik, M.Ag kepada Memo menyampaikan, di era kemajuan zaman yang serba bertehnologi canggih, hampir semua daerah di Indonesia mengalami problem yang hampir sama seperti yang rekan-rekan sampaikan tadi.

Setiap kali ada kesempatan, misalnya di majelis taklim atau kegiatan lainnya yang berkumpul dengan masyarakat, dirinya tak bosan-bosannya menyampaikan agar orang tua kembali memerankan sebagai orang tua untuk menjaga dan mengawasi putra putrinya setiap hari, kemana dia pergi, dengan siapa dia bergaul.

Yang terpenting adalah fasilitas yang diminta oleh putra putrinya, jangan sampai semuanya dituruti tanpa memikirkan sebab akibatnya dan lebih banyak dampak negatifnya daripada sisi positifnya.

“Kontrol putra putri kita dengan baik, karena peran orang tua itulah yang bisa menetukan semuanya akan baik-baik saja. Fasilitas apa yang selama ini terlepas dari kontrol kita, mulai sekarang harus menjadi perhatian serius,” ungkap Bupati As’at Malik.

Menurutnya, dalam kasus seperti ini orang tua tidak bisa mengandalkan petugas keamanan dan penertiban, seperti Sat Pol PP atau kepolisian yang mana jumlahnya lebih sedikit dan jauh lebih banyak jumlah anak-anak muda yang ada sekarang ini. Kemungkaran atau perbuatan asusila akan dilakukan oleh mereka, tentunya di sebuah tempat yang aman dan jauh dari pantauan petugas bersama warga.

Dirinya cukup sedih ketika mendengar ada Free Sex di wilayah Kecamatan Tempursari itu. Agar kondisi ini tidak semakin parah, mari semua orang tua meningkatkan kontrol dan pengawasan terhadap putra putrinya, sehingga setiap perkembangan dan pergaulannya terus bisa terawasi dengan baik. ”Tujuannya agar putra putri kita tidak  terjerumus kepada pergaulan bebas, hingga nekat berbuat asusila,” ungkapnya.

Masih kata Bupati, apabila ada 10 ribu orang tua melakukan penekanan terhadap anak laki-lakinya untuk tidak keluar rumah, maka malam itu juga tidak ada 10 anak perempuan keluar rumah. Apabila dalam satu malam ada 10 ribu anak laki-laki ke luar rumah, pasti akan ada 10 ribu anak perempuan ke luar rumah.

Tersinggung, Kepala Doly Dicacah Celurit

“Coba bayangkan, apabila mereka semuanya berpasangan dan melakukan kemungkaran atau asusila, maka dalam satu malam saja akan terjadi 10 ribu anak perempuan yang akan mengandung di usia muda, alias di luar nikah. Mari semua orang tua bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dengan meningkatkan kontrol, serta pengawasan terhadap putra putrinya agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang mungkar dan keji seperti itu,” pungkas Bupati Lumajang Drs. H. As’at Malik. (cho)

Wednesday, 18 March 2015

Gadis SMA Digilir Duda

Lumajang Memo
Lumajang, Memo_Amirul Maarif (25) duda asal Dusun Lokasi, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro ditangkap anggota Satreskrim Polsek Candipuro. Pasalnya, ia  bersama dua temannya yang hingga kini masih kabur telah melakukan perkosaan terhadap Bunga (nama samaran) siswi pelajar yang masih duduk dibangku kelas 2 SMA asal Desa Tegir, Kecamatan Pasirian.  Akibat aksi ketiga pelaku tersebut, sampai saat ini korban masih shock dan tidak mau masuk sekolah.
Penangkapan terhadap tersangka dilakukan pada Senin (16/3) malam, sekira pukul 23.00 Wib. Aksi bejat ketiga tersangka itu dilakukan pada Sabtu (14/3) siang, sekira pukul 13.00 Wib, di area Jembatan Perak Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candpuro. Informasinya, sepulang sekolah korban dijemput oleh salah satu teman tersangka lalu dipertemukan di rumah temannya yang tak jauh dari rumah tersangka.
Setelah ngobrol beberapa saat, korban lalu dibonceng tersangka menuju Jembatan Perak dengan mengendarai sepeda motor. Setiba di lokasi, korban diajak naik kepebukitan yang ada di atas jembatan tersebut. Di tempat itulah, korban lalu dipaksa untuk melayani nafsu bejat pelaku. “Pada saat itu, korban sempat teriak namun dibungkam dengan tangan oleh pelaku,” terangnya.
Diam-diam, ternyata ada dua teman pelaku yang sudah menunggu di tempat itu. Setelah pelaku pertama puas menyalurkan hasratnya, dua pelaku lain lalu mendekat dan ikut memerkosannya secara bergantian. Setelah ketiga hasrat pelaku itu tersalurkan, korban lalu diantar pulang oleh pelaku dan diturunkan di depan sekolahannya.
Setelah itu, korban menghubungi salah satu teman perempuannya untuk minta diantarkan pulang kerumahnya. Sesampai di rumahnya itulah, korban lalu menangis dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada orang tuanya. Bagai disambar petir disiang bolong, orang tua korban mencak-mencak lalu melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya itu kepada polisi.
Selanjutnya, petugas dari Polsek Candipuro langsung melakukan pengejaran kepada ketiga pelaku tersebut. Hasilnya, petugas berhasil menangkap salah satu pelaku yang saat itu sedang bermain Play Station di tempat penyewaan yang tak jauh dari rumahnya. “Saat kami tangkap, pelaku berusaha berkelit,” jelas petugas dari Polsek Candipuro.
Namun setelah ditunjukan bukti-bukti serta foto korban, akhirnya pelaku pasrah. Kemudian, pelaku langsung digelandang ke mapolsek guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi ketika ditanya siapa kedua pelaku yang lain, ia mengaku tidak tahu nama dan dari mana mereka berasal. “Saya sendiri baru kenal kedua anak itu ketika di rumah teman saya Pak,” akunya kepada petugas.
Kapolsek Candipuro, AKP Slamet Junaedi ketika dikonfirmasi tentang penangkapan satu dari tiga pelaku perkosaan itu membenarkan. Menurutnya, dua pelakunya masih kabur dan masih belum diketahui nama serta alamatnya.”Kami masih bekerjasama dengan tim resmob Polres Lumajang untuk melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku tersebut,” jelasnya.
Sementara untuk pasal yang  akan dijeratkan kepada tersangka yang tertangkap, yaitu pasal  76d juto pasal 81 Undang-Undang RI Nomer 35 Tahun 2014 perubahan atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang perindungan anak. “Untuk ancaman hukumannya, diatas lima belas tahun penjara,” tegas AKP Slamet Junaedi. (tri)

Monday, 2 March 2015

Siswi SMP Nyaris Melahirkan di Kelas

Lumajang Memo
Lumajang, Memo_Lembaga Pendidikan SMPN 1 Kedungjajang sempat heboh. Pasalnya, salah satu siswi berinisial KR (15), yang masih duduk dibangku kelas IX pada sekolah tersebut, diketahui hendak melahirkan di dalam kelas. Beruntung, peristiwa itu sempat diketahui oleh salah satu guru yang kemudian membawa siswi tersebut ke Puskesmas setempat. Diketahui, bayi yang dilahirkannya premature karena usia kandungan masih berjalan 7 bulan.
Jumat (27/2) pagi, sekira pukul 09.00 Wib. informasi di lapangan, siswi tersebut melahirkan di dalam kelas saat megikuti mata pelajaran. Bahkan informasinya, pelaku yang menghamili siswi itu sempat ditangkap oleh pihak kepolisin. Guna memastikan informasi tersebut, pada Sabtu (28/2), pagi, sekira pukul 09.30 Wib. Memo  mendatangi lembaga pendidikan yang dimaksud untuk mengkroscek kebenaran tentang berita miring itu.
Awalnya, Memo sempat kesulitan ketika akan  mengorek keterangan tentang kabar tersebut. Pasalnya, beberapa siswa serta guru yang ditemui, selalu mengelak dan menghindar. Tetapi diam-diam, ada salah satu siswa laki-laki yang menghampiri Memo dan menunjukan salah satu  ruang kelas dimana siswi yang dimaksud melahirkan bayinya.
“Di kelas sembilan B itu Pak, tempat kejadiannya,” terang anak laki-laki itu sambil menujukan ruang lalu bergegas pergi. Mengetahui ada wartawan datang yang ingin mengambil gambar, guru perempuan yang mengajar di kelas tersebut langsung menyuruh masuk murid-muridnya yang ada di luar ruang kelas.
“Pak wartawan, tolong saya disuting biar masuk TV dan koran,”celoteh anak laki-laki yang kemudian bergegas masuk dengan diikuti teman-teman sekelasnya. Lagi-lagi, guru perempuan yang ada di kelas itu juga enggan memberikan keterangan perihal kejadian tersebut. Namun guru perempuan itu menyarankan, agar Memo konfirmasi langsung dengan pihak Kepala Sekolah (KS).
“Lebih jelasnya, Bapak langsung saja konfirmasi dengan pihak Kepala Sekolah,” saran guru perempuan itu kepada Memo. Pada saat Memo hendak berjalan menuju ruang Kepala Sekolah, ada salah satu guru laki-laki yang menghampiri lalu menjelaskan tentang kronologis dari peristiwa itu.
Kejadiannya kata dia, pada saat siswi yang dimaksud sedang mengikuti mata pelajaran agama. Semula, guru yang sedang mengajar mata pelajaran itu menyangka jika sakit perut yang dikeluhkan siswinya itu hanyalah sakit perut biasa. Mungkin karena sakit yang dialami semakin parah, akhirnya siswi tersebut menangis sambil kedua tangannya terus memegangi  sisih kanan kiri perutnya.
“Saat itu, saya sempat melihat ada air bececeran di bawah tempat duduknya. Kemungkinan, air itu adalah air ketuban,”jelasnya. Karena melihat kondisi korban yang sangat mengkawatirkan, ia lalu menguhubungi pihak Puskesmas terdekat. Beberapa saat kemudian, mobil ambulan dari Puskesmas datang lalau membawa siswi tersebut ke Puskesmas.
Satu jam kemudian, pihak sekolah mendapat informasi dari pihak Puskesmas jika siswi yang dibawanya itu telah melahirkan dengan selamat. Tetapi, bayi yang dilahirkannya itu premature karena usia kandungannya masih berjalan tujuh bulan. “Saya baru sadar, ternyata selama ini ia mengandung,” ungkapnya.
Sebelumnya, guru-guru maupun teman-temannya tidak pernah menduga jika korban sedang mengandung. Pasalnya, tidak ada perubahan fisik yang deialami oleh siswi perempuan itu. Bahkan, perutnyapun tidak terlihat membesar. “Mungkin karena tertutup dengan kkain hijab, sehingga perutnya meskipun besar tidak terlalu nampak,” jlentrehnya.
Hal senada, juga dilontarkan oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Kedungjajang, Dra Indrayani S.Pd ketika ditemui Memo di ruang kerjanya. Namun ia menolak ketika salah satu siswinya itu melahirkan di dalam kelas. Yang benar kata dia, siswinya itu masih dalam proses akan melahirkan.
“Setelah dibawa ke Puskesmas dan mendapat pertolongan dari bidan, baru siswi itu melahirkan. Jadi bukan melahirkan di dalam kelas seperti kabar diluaran,” bantahnya. Sampai saat ini jelas dia, ia masih belum tahu jenis kelamin dari bayi yang dilahirkan itu. Yang pasti, bayi itu masih dalam perawatan pihak Puskesmas karena kondisinya premature. (tri)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 Muachrus All Rights Reserved.
back to top